BukuSastra Puisi Baru, karya Sutan Takdir Alisjahbana di Tokopedia ā Promo Pengguna Baru ā Cicilan 0% ā Kurir Instan.
BerandaĀ» Karya Sastra Ā» Puisi Ā» Aku dan Tuhan. Aku dan Tuhan. Rabu, 28/09/2016 - 16:04 ā Emanuel Zai. Puisi | cinta sejati; Aku dan Tuhan . Bukan bermaksud menyaingi Tuhan, tetapi aku mencintaimu tanpa menuntut balas. Emanuel Zai. 484 dibaca; Komentar . Tulis komentar baru. Nama Anda: * email: * Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak
MaknaPilihan Kata Puisi 'Dalam Gelombang' Karya Sutan Takdir Alisjahbana - area unik dan misteri dari penjuru dunia
Amirmendirikan Poedjangga Baroe dengan Armijn Pane (atas) dan Sutan Takdir Alisjahbana. Setelah menyelesaikan menulis lima puluh puisi, delapan belas potongan puisi prosa, dua belas artikel, empat cerita pendek, tiga koleksi puisi, dan satu buku karya asli. Dia juga Menurut Balfas, agama dan Tuhan terlihat di mana-mana di
MAKNAPUISI. Puisi "Dalam Gelombang" di atas merupakan salah satu karya dari Sutan Takdir Alisjahbana. Setelah membacanya, kita bisa mengetahui makna yang ingin disampaikan oleh penulis melalui puisi tersebut. Aku pergi dan kembali Tak tahu maunya siapa Aku pun masih menunggu. Posted by Unknown at 3:15 AM No comments: Email This BlogThis
1MAKNA YANG TERSIRAT DALAM BAHASA PUISI JANGAN TANGGUNG JANGAN KEPALANG KARYA SUTAN TAKDIR ALISYAHBANA Hastari Mayrita Dosen Universitas Bina Darma, Author: Harjanti Rachman 33 downloads 692 Views 224KB Size
Susunanalur/plot dalam Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana adalah sebagai berikut: 1) Pengarang mulai melukiskan keadaan (Situation) Pada hari minggu pukul tujuh pagi, pintu gedung akuarium terbuka. Dua orang gadis masuk ke dalam gedung akuarium, kedua gadis itu bernama Tuti dan Maria.
Selanjutnyamengenai diksi atau pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Puisi sebagai bentuk karya sastra yang dengan sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
BUKU PUISI BARU BY SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA di Tokopedia ā Promo Pengguna Baru ā Cicilan 0% ā Kurir Instan.
NovelAnak Perawan di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisjahbana menunjukkan nuansa uluan yang sangat kental di dalamnya. Kepemimpinan adalah satu di antaranya.
Membiaraku berjuang sendiri, Hilang hanyut tiada bertolong. Demikian Ani rasanya diri, Sejak kamas engkau tinggalkan, Tidak berkata tidak berpesan. =SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA= Diposting oleh Perjalanan Sang Merpati Putih di 07.22. Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest. Label: SUTAN
Perbedaanitu dapat dilihat dari dua kalimat berikut. Pertama, kalimat dalam karya ilmiah (a) Pedoman Penulisan karya ilmiah ini memberikan petunjuk tentang cara menulis karya yang berupa skripsi, tesis, disertasi, artikel, makalah, tugas akhir, dan laporan penelitian (PPKI UM, 2010:2).(b) Sebagian pakar bahasa menganggap ini sebagai dialek melayu karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk
Biladalam sajak Samadi terbaca sosok manusia yang menyadari ketidakmungkinannya untuk sempurna, sajak Sutan Takdir Alisjahbana, "Hidup di Dunia Hanya Sekali" (1938) justru memperlihatkan pada kita sosok manusia yangābarangkali karena sadar akan ketidakmungkinannya untuk sempurnaādipacu untuk berkarya dan berprestasi setinggi mungkin. Hidup
erpitriyantimenerbitkan Puisi Lama by Sutan Takdir Alisjahbana (z-lib.org) pada 2021-09-30. Bacalah versi online Puisi Lama by Sutan Takdir Alisjahbana (z-lib.org) tersebut. Baiklah aku berhenti disini. 1) sedangkan; 'z) l6dang: putjat; 50 hamba dan Tuhan tiada berb6dtr. LIIA itu temPat niengintai, m6dan jang kadim 1) tempat berdamai,
ANALISISSTRUKTURAL PUISI "AKU DAN TUHANKU" KARYA SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA. by Trias Sugiharti. Download Free PDF Download PDF Download Free PDF View PDF. 1.Diksi 2.Imaji 3.Kata konkret 4.Rima / ritme Diksi dalam puisi 1. Makna Kias (konotatif) = Makna yang mengandung pengandaian atau pengibaratan 2. Analisis Struktural Pada Puisi Malu
J7f9uFE. Lanjut ke konten Perjuangan Tenteram dan damai? Tidak, tidak Tuhanku! Tenteram dan damai waktu tidur di malam sepi. Tenteram dan damai berbaju putih di dalam kubur. Tetapi hidup ialah perjuangan. Perjuangan semata lautan segera. Perjuangan semata alam semesta. Hanya dalam berjuang beta merasa tenteram dan damai. Hanya dalam berjuang berkobar Engkau Tuhanku di alam dada. Analisis puisi di atas berdasarkan Lapis Bunyi Pada bait pertama dan kedua ada asonansi a dan u yaitu pada kata damaiā dan tuhankuā serta sepi; dan kuburā. Pada bait ketiga terdapat bunyi asonansi a pada tiga baris yaitu di kata perjuanganā, segeraā dan semestaā. Di dalam puisi Perjuangan penulis menggunaan pengulangan bunyi untuk menambah nilai estetika. Seperi kata tentram dan damai pada baris pertama diulang di baris ke dua dan tiga, begitu pula pengulangan kata perjuanganā dan hanyaā baris-baris yang mengikutinya. Lapis Artimakna eksplisit Arti puisi Perjuangan per bait Tentram dan damai? Pengarang mempertanyakan arti kata tentram dan damai yang selama ini disalah artikan oleh orang orang. Tidak, tidak Tuhanku! Kemudian pernyataan itu disangkalnya. Menurutnya bukan itu yang sesunggunya. Tentram dan damai waktu tidur dalam sepi Tentram dan damai berbaju putih di dalam kubur Orang-orang beranggapan bahwa menyatakan bahwa damai menurut orang-orang adalah ketika kamu bisa terlelap dalam tidur dan ketika berbalut baju putih di dalam kuburā yang berarti ketika menemui kematian. Hanya dengan kematian sesungguhnya kedamaian yang selama ini menjadi maksud pikiran manusia atas arti kata damai. Apabila kedamaian yang dimaksud adalah menikmati hidup dengan tenang dan tidak melakukan apa-apa, itulah saat manusia sedang tidur atau menemui kematiannya Arti damai yang sesungguhnya tidaklah semudah itu untuk diraih. Tetapi hidup adalah perjuangan Penyair ingin mengungkapkan bahwa hidup yang sesungguhnya adalah perjuangan. Kita harus berjuang untuk mendapatkan sukses dan perjuangan itu berkelanjutan tiada hentinya. Arti hidup yang sebenarnya adalah berjuang ketika seseorang tidak lagi mempunyai motivasi untuk berjuang maka ia tidak bisa dikatakan hidup. Perjuangan semata lautan segera. Perjuangan semata alam semesta. Penyair menggambarkan arti kata perjuangan dengan lautan dan alam semesta, itu berarti sebuah perjuangan tidak berhenti pada satu titik saja. Saat kita merasa selesai melakukan atau mencapai hal yang kita inginkan sesungguhnya itu bukan akhir tetapi sebuah awal, begitupun seterusnya. Di dalam hidup kita akan terus berjuang. Penyair menggambarkan arti kata perjuangan dengan lautan dan alam semesta, itu berarti sebuah perjuangan tidak berhenti pada satu titik saja. Saat kita merasa selesai melakukan atau mencapai hal yang kita inginkan sesungguhnya itu bukan akhir tetapi sebuah awal, begitupun seterusnya. Hanya dalam berjuang beta merasa tenteram dan damai. Hanya dalam berjuang berkobar Engkau Tuhanku di alam dada. Rasa tentram dan damai didapat dari perjuangan. Mengapa? Karena saat kita berjuang kita meminta bantuan kepada-Nya dan terus mendekatkan diri. Pada bait terakhir penyair menyatakan bahwa dengan cara itulah manusia akan dekat dengan Tuhannya karena ia akan selalu menmanjatkan doa untuk memperjuangkan hidupnya. Dan saat dekat dengan Tuhannya melalui doa itulah ia akan measakan damai dan tentram. Hanya dengan memperjuangkan dan memiliki motivasi hidup Tuhan selalu ada di hati kita. Lapis Ketiga Pelaku atau tokoh beta. Latar waktu waktu tokoh beta atau waktu ketika orang-orang sedang tidur dan mati. Latar waktu juga menggunakan selama kita hidup di dunia ini. Saat kita hidup karena memperjuangkan sesuatu. Gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku serta struktur ceritanyaalur adalah Tokoh beta yang sedang berkata kepada Tuhan di dalam hatinya lebih kepada dirinya sendiri. Ia ingin mengatakan bahwa pengertian orang-orang selama ini bahwa arti damai selama ini adalah tidur dan ketika kita mati adalah salah. Penulis mengatakan bahwa saat merasa damai adalah ketika ia berjuang dalam hidup karena pada saat itu ia meminta kepada Tuhan untuk dimudahkan dan akan merasa dekat dengan-Nya. Saaat dekat itu ia merasa damai. Lapis keempatDunia Lapis duniaā adalah yang tak perlu ditanyakan, tetapi sudah eksplisit, tampak sebagai berikut. Pada bait pertama baris pertama tokoh beta mempertanyakan arti damai. Apakah arti damai sesunggunya. Pada bait kedua menyatakan bahwa damai menurut orang-orang adalah ketika kamu bisa terlelap dalam tidur dan ketika berbalut baju putih di dalam kuburā yang berarti ketika menemui kematian. Pada bait ketiga dikatakan secara gamblang oleh penyair pada kalimat hidup adalah perjuanganā dan ia menggambarkan bahwa perjuangan itu diibaratkan seperti samura dan segara yang luas dan tidak ada ujungnya. Di dalam hidup kita akan terus berjuang. Penyair menggambarkan arti kata perjuangan dengan lautan dan alam semesta, itu berarti sebuah perjuangan tidak berhenti pada satu titik saja. Saat kita merasa selesai melakukan atau mencapai hal yang kita inginkan sesungguhnya itu bukan akhir tetapi sebuah awal, begitupun seterusnya. Pada bait terakhir penyair menyatakan bahwa dengan cara itulah manusia akan dekat dengan Tuhannya karena ia akan selalu menmanjatkan doa untuk memperjuangkan hidupnya. Dan saat dekat dengan Tuhannya melalui doa itulah ia akan measakan damai dan tentram. Rasa tentram dan damai didapat dari perjuangan. Mengapa? Karena saat kita berjuang kita meminta bantuan kepada-Nya dan terus mendekatkan diri. Lapis Metafisis Lapis Metafisis atau amanat yang dapat saya ambil dari puisi ini adalah semakin kita memperjuangkan sesuatu maka pada hakikatnya kita akan semakin dekat dengan sang pencipta karena kita memohon bantuanNya. Rasa tentram dan damai didapat dari perjuangan. Karena saat kita berjuang kita meminta bantuan kepada-Nya dan terus mendekatkan diri. Pada bait terakhir penyair menyatakan bahwa dengan cara itulah manusia akan dekat dengan Tuhannya karena ia akan selalu menmanjatkan doa untuk memperjuangkan hidupnya. Dan saat dekat dengan Tuhannya melalui doa itulah ia akan measakan damai dan tentram. Hanya dengan memperjuangkan dan memiliki motivasi hidup Tuhan selalu ada di hati kita. Apabila kita menemui sebuah keberhasilan maka hal itu tak lepas dari campur tangan Tuhan dan apabila kita menemui kegagalan saat berjuang itu berarti Tuhan sudah menyiapkan rencana lain untuk kita, dan kita harus tetap melanjutkan perjuangan. Pesan itulah yang ingin pengarang sampaikan, kita merasa damai dan tentram ketika kita tahu Tuhan selalu ada dalam langkah perjuangan kita. Sebuah perjuangan tidak berhenti pada satu titik saja. Saat kita merasa selesai melakukan atau mencapai hal yang kita inginkan sesungguhnya itu bukan akhir tetapi sebuah awal, begitupun seterusnya. Navigasi pos
Januari 24, 2020 Soal Sejarah SMA Salah satu tokoh penting Angkatan Pujangga Baru adalah Sutan Takdir Alisyahbana. Di bawah ini termasuk hasil karyanya,kecualiā¦. A. Tak Putus Dirundung Malang B. Dian Yang Tak Kunjung Padam C. Anak Perawan Di Sarang Penyamun D. Layar Terkembang E. Setanggi Timur Pembahasan; Sutan Takdir Alisyahbana Hasil karya Sutan Takdir Alisyahbana, antara lain Tak Putus Dirundung Malang, roman tahun 1929; Dian Yang Tak Kunjung Padam, roman tahun 1932, Anak Perawan di Sarang Penyamun, roman tahun 1941; Layar Terkembang, roman tahun 1936; Tebaran Mega, puisi; Dari Perjuangan ke Pertumbuhan Bahasa Indonesia, tahun 1957; Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan. Jadi Salah satu tokoh penting Angkatan Pujangga Baru adalah Sutan Takdir Alisyahbana. Di bawah ini termasuk hasil karyanya,kecualiā¦. E. Setanggi Timur Setangi Timur merupakan karya dari Amir Hamzah About The Author doni setyawan Mari berlomba lomba dalam kebaikan. Semoga isi dari blog ini membawa manfaat bagi para pengunjung blog. Terimakasih
Sebagai seorang penulis, Sutan Takdir Alisjahbana 1908 ā 1994 telah menghasilkan lebih dari empat puluh buku, yang mana di antaranya berupa sepuluh buku kajian budaya 1950 ā 1989, sepuluh buku ilmu bahasa antara tahun 1936 ā 1977, tujuh roman antara tahun 1929 ā 1978, enam buku ilmu 1978, lima buku kajian seni antara tahun 1980 ā 1985, lima buku kumpulan puisi antara tahun 1935 ā 1983, dan dua buku ilmu pendidikan pada tahun 1984 dan 1956. Dari segi bentuk, karya-karya yang dihasilkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana cenderung didominasi oleh jenis prosa. Dikarenakan dominasi prosa pada sebagian besar karya yang dihasilkannya tersebut, ia dijuluki āprosawanā oleh para pengamat sastra di Indonesia. Karya prosa Sutan Takdir Alisjahbana terbagi ke dalam dua bentuk, yakni roman dan novel. Roman yang paling terkenal berjudul Layar Terkembang 1936, sedangkan novel terpopulernya adalah Anak Perawan di Sarang Penyamun 1940. Selain prosa, Sutan Takdir Alisjahbana juga aktif menulis puisi dan drama yang bersifat signifikan dan berwarna baru. Beberapa puisi fenomenal Sutan Takdir Alisjahbana dapat disimak dalam kumpulan sajak Tebaran Mega 1935. Sedangkan pada kategori drama, ia menghasilkan satu jenis drama bersajak dalam Kebangkitan Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru 1984. Untuk menemukan unsur paham Barat dalam karya-karya sastra Sutan Takdir Alisjahbana, maka kegiatan analisis hanya dibatasi pada dua karya yang dianggap paling berpengaruh, yakni 1 roman Layar Terkembang 1936 dan 2 puisi Menuju ke Laut 1946. Sebagai tambahan, puisi Menuju ke Laut akan dibahas secara utuh, sedangkan roman Layar Terkembang berbentuk sinopsis. Tuti merupakan kakak kandung dari Maria. Keduanya memiliki sifat yang berbeda; Tuti berpembawaan serius, pendiam, memiliki pemikiran modern serta aktif dalam memperjuangkan hak penyetaraan gender. Sedangkan Maria adalah gadis periang, lincah dan mudah bergaul. Keduanya merupakan anak dari Raden Wiriatmajda, seorang mantan wedana Banten yang telah lama menduda sepeninggalan istrinya. Ketika sedang berada di gedung akuarium pasar ikan, Maria dan Tuti berkenalan dengan seorang mahasiswa kedokteran asal Martapura, Sumatra Selatan yang bernama Yusuf. Beberapa waktu kemudian, ketiganya menjadi akrab dan menghabiskan hari itu bersama-sama. Pada penghujung pertemuannya, Tuti dan Maria kemudian diantarkan pulang ke rumah oleh Yusuf. Yusuf diketahui telah menaruh hati terhadap Maria sejak pertama kali bertemu. Beberapa waktu kemudian, keduanya semakin dekat dan memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Di sisi lain, Tuti cenderung menjauhi segala bentuk hubungan asmara dengan cara selalu menyibukkan dirinya dalam kegiatan membaca serta mengikuti berbagai kongres yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Dikarenakan hubungan asmaranya yang semakin serius, keluarga Maria dan Yusuf akhirnya sepakat untuk mempertunangkan putra-putrinya. Namun demikian, Maria terpaksa harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit tuberkulosis di hari-hari menjelang pernikahannya. Semasa menjalani perawatan, kondisi kesehatan Maria terlihat semakin memburuk. Terlebih lagi ketika dirinya mengalami serangan batuk berdarah yang mampu merenggut nyawanya. Setelah menyadari masa-masa kritis tersebut, Maria kemudian berpesan kepada Tuti agar sudi untuk menggantikan posisinya serta menikahi Yusuf sepeninggalannya. Di penghujung cerita, Maria akhirnya pun meninggal dunia. Sementara itu, Yusuf dan Tuti telah mewujudkan wasiat yang diamanahkan oleh Maria dengan cara menjalani hidup bersama sebagai pasangan suami istri Layar Terkembang, 1936 sinopsis roman. ā Hasil Analisis Jika dicermati, roman Layar Terkembang sejatinya membahas tentang sifat-sifat dari dua tokoh cerita, yaitu Tuti dan Maria yang diketahui saling bertolak belakang. Karakter Tuti digambarkan pengarang sebagai sosok idealis dan kritis, sedangkan Maria mewakili sosok yang lemah lembut dan bersahaja. Layar Terkembang diyakini kritikus sastra sebagai bentuk dari representasi simbolis mengenai pertentangan anutan nilai-nilai dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut dijelaskan oleh Tham Seong Chee dalam Essays on Literature and Society in Southeast Asia Political and Sociological Perspectives 1981 105, antara lain sebagai berikut āIn his novel Layar Terkembang, Takdir Alisjahbana systematically embodies his ideas in the characters and situations created in the novel... the novel and its characters are symbolic, as it was the intention of the author to convey meanings and values considered to be of dominant concern in resolving the issues of cultural developments through the characters in the novel... lack of agreement between two characters is matched by incompatibility of values between the two, and this in effect suggests a clash of symbols of meaning as wellā. āDalam novel Layar Terkembang, Takdir Alisjahbana secara sistematis menerapkan gagasan-gagasan ke dalam tokoh-tokoh dan keadaan-keadaan yang diciptakannya... novel dan tokoh-tokohnya bersifat simbolis, yang merupakan tujuan pengarang guna menyampaikan serangkaian makna serta nilai yang dianggap dominan sebagai penyelesaian berbagai masalah perkembangan kultural melalui tokoh-tokohnya... ketidaksepahaman kedua tokoh tersebut dipertandingkan dengan ketidaksesuaian nilai-nilai yang dianut oleh keduanya, dan sebagai hasilnya menyajikan tentang pertentangan simbol-simbol maknaā. Berangkat dari argumen tersebut, tersimak usaha-usaha Sutan Takdir Alisjahbana untuk menggambarkan representasi wawasan modern yang dipertentangkan dengan paham tradisional melalui simbol-simbol yang terkandung di dalam roman. Adapun hal tersebut diterangkan oleh Chee 1981 106, sebagai berikut āTuti, the elder is... independent, socially confident, articulate, egoistic, the emancipated. She believes in speaking her own mind... To her everything must be weighed rationally, intellectually, and incisively from the viewpoint of the individual. She is extremely active in politics, and participates in debates, forums, and public meetings... On the other hand, there is Maria, symbolic of the traditional ideal woman. Secure in the protection of her family, she is demure, loving perhaps emotional, caring, gentle, sensitive, and loyal. She has no great ambition to alter the world and not particularly articulate. She desires harmony with the worldā. āTuti, sang kakak... independen, percaya diri, lugas, egois, yang tak suka dikekang. Ia meyakini pemikiran-pemikirannya... Baginya segala sesuatu politik, dan mengikuti debat-debat, forum-forum, dan pertemuan-pertemuan publik... Sebaliknya, Maria, sebagai simbol ideal wanita tradisional Indonesia. Aman dalam lindungan keluarganya, ia sopan juga pemalu, penyayang mungkin gampang terbawa perasaan, peduli, lembut, perasa, dan setia. Ia tidak memiliki ambisi besar untuk merubah dunia dan tidak begitu lugas. Ia menginginkan keselarasan dalam duniaā. Sutan Takdir Alisjahbana diyakini telah memposisikan tokoh Tuti sebagai cerminan dari wanita berpaham Barat yang berjiwa modern dan mandiri, sedangkan posisi tokoh Maria mencerminkan sifat wanita Indonesia tradisional yang cenderung penurut dan pasif. Lebih lanjut mengenai hal tersebut, disampaikan oleh Chee 1981 111 ā 112 sebagai berikut āIn Layar Terkembang there was an attempt to present the dilemma of a modern educated Indonesian woman in Tuti, and the psychological urging in her to be a woman, to marry, to settle down to the role of a traditional wife. However, the author tended to allow his ideological inclinations to dominate her and the novel, which results in an unconvincing working out of the confrontation between traditional values and modern assumed to be western values... It is the tendency to see one as dominantly Eastern and the other as dominantly Western that had been a major shortcoming of the novel of social criticim during this periodā. āDalam novel Layar Terkembang terdapat usaha untuk menceritakan dilema yang dialami oleh seorang wanita terdidik Indonesia dalam tokoh Tuti, dan keinginan kerasnya untuk menjadi seorang wanita secara utuh, membiasakan diri sebagai ibu rumah tangga. Walaupun demikian, pengarang cenderung untuk mendominasi Tuti dan novel dengan pengaruh ideologinya, yang mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dalam hal penyelesaian pertikaian antara nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai modern diyakini berkiblat ke nilai-nilai Barat... Ini ditekankan untuk melihat seseorang yang dominan ke Barat sementara orang lainnya dominan ke Timur yang menjadi kelemahan terbesar dalam novel kritik sosial periode tersebutā. Menjelang akhir cerita roman, ditemukan simbol-simbol berupa peralihan Yusuf dan Tuti. Adapun peristiwa kematian tokoh Maria dianggap telah menggambarkan tentang pengakhiran paham tradisional yang identik dengan sifat lemah, kuno dan dependen, sedangkan pernikahan Yusuf dan Tuti dimaknai sebagai gejala-gejala modernisasi sikap masyarakat. Lebih lanjut mengenai penjelasan tersebut, disampaikan oleh Chee 1981 106 sebagai berikut āYusuf... is her fiance and she sees herself as eventually becoming his wife, to be his consistent and companion for life, living in the shadow of his protection. However, she contracts tuberculosis and dies, but not before she has made Tuti and Yusuf promise that they would eventually wed each other-a development symbolic of the demise of the old and the inevitable take-over of the newā. āYusuf... adalah tunangannya dan ia melihat dirinya Maria sebagai calon istrinya, menjadi pendamping hidupnya yang setia, hidup dalam bayang-bayang perlindungannya. Namun demikian, ia terserang penyakit tuberkulosis dan akhirnya meninggal dunia, setelah sebelumnya sempat meminta Tuti dan Yusuf berjanji agar dapat saling menikahi-sebuah perkembangan simbolis mengenai kematian paham lama yang diambil alih oleh paham baruā. Ditinjau dari segi penggunaan bahasa, roman Layar Terkembang dituliskan dalam sebuah bentuk konstruksi baru, namun masih dipengaruhi oleh adat Melayu Lama. Konstruksi baru yang dimasud adalah berupa jarang terjadinya dialog antara satu tokoh dengan tokoh lainnya Siregar, 1964 101. Sedangkan dari segi tendensnya, roman Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana telah berhasil menggiring fokus konflik antara budaya tradisional dan budaya individual menjadi sarana kebangkitan semangat nasionalisme kaum muda, sekaligus pemicu pergerakan kaum feminis Indonesia. Berikut adalah puisi utuh dari judul yang dimaksud Puisi Menuju ke Laut dikenal luas sebagai salah satu karya dari Sutan Takdir Alisjahbana yang ditulis dalam majalah Pembaruan edisi tahun 1946 Alisjahbana, 1946 64. Meskipun demikian, ia sejatinya merupakan konten asli dari Madjalah Poedjangga Baru yang telah terbit pada pertengahan tahun 1930-an Foulcher & Day, 2008 235. Menurut jenisnya, Menuju ke Laut termasuk merupakan puisi bebas, yaitu puisi dengan pola persajakan dinamis tidak tetap. Selain itu, puisi tersebut juga menggunakan jenis rima patah yang diwarnai dengan unsur asonansi bunyi vokal sebaris dan aliterasi bunyi konsonan sebaris. Lebih lanjut, dilakukan analisis intrinsik dan ekstrinsik terhadap puisi yang dimaksud. ā Analisis Intrinsik Ditinjau dari segi tipografi, puisi Menuju ke Laut terdiri dari lima sekstet sajak enam seuntai pada bait pertama, kedua, ketiga, keempat, dan keenam dan satu kuintet sajak lima seuntai pada bait kelima. Pada bait pertama, bentuk persajakannya adalah a-b-c-d-c-e dengan dominasi asonansi bunyi āi pada kata kami, dari, sekali, dan mimpi dan aliterasi bunyi -n pada kata meninggalkan, rimbun, angin, topan, dan terbangun. Bait kedua bersajak a-b-c-d-a-e dengan asonansi bunyi -a pada kata ria, rata, berlomba, mega dan aliterasi bunyi -ng pada kata gelanggang, berulang, jurang, ditantang, dan diserang. bunyi -a pada kata reda, lama, rasa, segala, dan apa dan dominasi aliterasi bunyi -ng pada kata berjuang, penghalang, menyerang, dan menghadang. Pada bait keempat terdapat persajakan a-b-c-d-e-f dengan asonansi bunyi -a pada kata bercahaya, suara, dan bahna dan aliterasi bunyi -r pada kata terhemaps, berderai, bercahaya, bunyi -l pada kata keluh, gelak, silih. Bait kelima menggunakan persajakan a-b-c-d-e dengan asonansi bunyi -a pada kata betapa, sukarnya, dan tiada dan aliterasi bunyi -n pada kata jalan, badan, pikiran, dan ketenangan. Pada bait keenam, puisi menggunakan pola persajakan a-b-c-c-c-d dengan asonansi bunyi -i pada kata kami, dari, sekali, dan mimpi dan aliterasi bunyi -n pada kata meninggalkan, rimbun, angin, topan, dan terbangun. Dalam hal penggunaan diksi, puisi Menuju ke Laut menggunakan majas personifikasi pada kata āombak ria berkejar-kejaranā dalam bait kedua, ātebing jurang ditantang diserangā dalam bait kedua, ābergurau bersama anginā dalam bait kedua, dan āberlomba bersama megaā dalam bait kedua; majas hiperbola pada āketenangan lama rasa bekuā, āterhempas berderai bercahayaā dalam bait ketiga, dan āhati hancurā dalam bait kelima; majas depersonifikasi pada āpikiran kusutā dalam bait kelima; majas pleonasme pada ātasik yang tenang, tiada beriakā dalam bait pertama dan terakhir; majas metafora pada āberontak hati hendak bebasā dalam bait ketiga; dan majas alegori dalam keenam bait puisi, dan lain-lain. Puisi Menuju ke Laut berisi tema pembaruan pola pikir masyarakat, yaitu yang terkait dengan usaha perombakan terhadap pola pikir kaum intelektual Indonesia dengan cara meninggalkan ruang tradisi lama untuk kemudian berevolusi mengikuti tradisi baru Mohamad, 2005 253. Sutan Takdir Alisjahbana diketahui menggunakan imaji citraan dan majas dalam puisi tersebut guna mengkritik kebudayaan lama yang dianggap pasif dan statis. Dengan kata lain, inti dari puisi tersebut adalah mengenai transisi nilai-nilai tradisional ke arah kehidupan era modern yang penuh kegelisahan. Lebih lanjut mengenai argumen tersebut, dijelaskan Mohamad 2005 252 ā 253 sebagai berikut āāKAMI telah meninggalkan engkau, tasik yang tenang, tiada beriakā. Baris itu dari sajak Menuju ke Laut. Metafora itu kita kenal dari sebuah tasik yang tanpa gelombang ke sebuah laut yang gemuruh, dari sebuah kehidupan yang teduh terlindungi ādari angin dan topanā ke sebuah kehidupan yang didefinisikan sebagai dinamika yang resah. S. Takdir Alisjahbana memasangnya sebagai semacam manifesto dari āAngkatan Baruā di tahun-tahun awal 1930-an Indonesia. Sang penulis Layar Terkembang itu memaklumkan bahwa sebuah generasi intelektual Indonesia telah menyatakan angkat sauh meninggalkan tradisi. Mereka telah āterbangun dari mimpi yang nikmatā. Pesona dunia lama telah retak. āKetenangan lama rasa beku, /gunung pelindung rasa pengalangā... Maka mereka pun berangkat ke kegelisahan modern. Atau, dalam kiasan sajak itu, ke arah laut dengan gelombang buih yang beraniā. Dibahas dari aspek penggunaan imaji, puisi Menuju ke Laut melekatkan simbol-simbol makna pada kata ātasikā danau dan kata ālautā sebagai representasi batasan spasial scope, yakni berhubungan dengan besar kecilnya cakupan wilayah berikut masing-masing sifat yang diwakilinya. Kata ātasikā mewakili tradisi lama yang dianggap sempit wilayah persebarannya; sedangkan Selain itu, kata ātasikā dan ālautā dijadikan sebagai analogi suatu wadah muatan air, yakni dimana ātasikā dianalogikan sebagai muatan air berwadah kecil, tidak berombak, dan cenderung tenang; sementara kata ālautā sebagai kiasan muatan air berwadah besar yang berombak liar. Namun jika dicermati, sesungguhnya fokus makna dari kedua imaji tersebut berada pada arah persebaran airnya; dimana air dimaknai sebagai manifetasi dari suatu anutan paham yang harus diperjuangkan. Dengan kata lain, Sutan Takdir Alisjahbana berusaha menegaskan bahwa ālautā bukanlah pencapaian akhir dari sebuah misi tapi justru suatu tantangan dan awal dari perjuangan Chee, 1981 34. Amanat puisi Menuju ke Laut terletak pada bait pertama dan kedua, yaitu ajakan untuk meninggalkan kebudayaan Indonesia lama menuju kebudayaan Indonesia modern yang bersifat lebih dinamis dan menantang. Berkaitan dengan hal tersebut, dijelaskan oleh Chee 1981 105 sebagai berikut āIn his poem, āTowards the seaā, dedicated to the New Generation, ...The new society and the new cutural orientation must therefore be like Waves rushing ahead of each other in the blue cockpit bounded by the sky. The spreading sands continuously kissed, steep banks forever assailed and attacked in laughter with the winds in race with the cloudsā. Kami telah meninggalkan engkau, tasik yang tenang, tiada beriak, diteduh gunung yang rimbun, dari angin dan topan, Sebab sekali kami terbangun dari mimpi yang nikmat. ...Maka masyarakat baru dan orientasi kultural yang baru harus seperti Ombak ria berkejar-kejaran di gelanggang biru bertepi langit pasir rata berulang dikecup, tebing jurang ditantang diserang, dalam bergurau bersama angin, dalam berlomba bersama megaā. Lebih lanjut, Chee 1981 105 menambahkan bahwa puisi Menuju ke Laut secara simbolis mengajak bangsa Indonesia untuk membentuk masyarakat sosial dinamis yang bercirikan penganutan sistem nilai intelektualme, egoisme, materialisme, dan individualisme. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa puisi tersebut digunakan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai sarana westernisasi.
Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Terpendam yang Bermutu Tinggi Sastra Angkatan Pujangga Baru, bentuk Puisi Karya Sutan Takdir Alisjahbana Ini adalah salah satu puisi yang diciptakan dengan rangkaian makna indah oleh STA, tentang perjuangan dan cinta tanah air, kata mengalir pasti dengan pola yang terencana apik Dari buku Tebaran Mega Waktu penulisan 24 Juli 1935 ā Tenteram dan damai? Tidak, tidak Tuhanku! Tenteram dan damai waktu tidur di malam sepi Terteram dan damai berbaju putih di dalam kubur Tetapi hidup ialah perjuangan Perjuangan semata lautan segara Perjuangan semata alam semesta Hanya dalam berjuang beta merasa tenteram dan damai Hanya dalam berjuang berkobar Engkau Tuhanku di dalam dada Originally posted 2012-10-21 053250. Republished by Blog Post Promoter
makna puisi aku dan tuhanku karya sutan takdir alisjahbana